Kesiapan Jepang Dalam Menghadapi Gempa Berkekuatan 7,5 Magnitudo

Kesiapan Jepang dalam menghadapi gempa dengan kekuatan 7,5 magnitudo pada senin lalu dapat di katakana cukup baik. Selain itu, dapat di lihat dari dampaknya terhadap pergerakan tanah. Pada beberapa tempat, permukaan tanah terlihat naik sampai di atas empat meter lalu bergerak ke samping sekitar satu meter. Sebagai negara yang cukup rawan terkena gempa, Jepang sudah sangatlah maju dalam memantau apa saja yang akan terjadi ketika bumi berguncang.

Inilah yang kemudian membuat mereka mampu untuk membuat pengukuran yang sangat terperinci. Ada jaringan stasiun GPS VIEWNEWZ pada titik-titik strategis di seluruh Wilayah Jepang.Sehingga, saat gempa bumi melanda, maka para ilmuwan bisa menyebutkan sejauh apa masing-masing titik GPS ini berpindah. Yang mana bisa diartikan menjadi seberapa jauh bentang bumi sudah tertekuk serta bergeser.

kesiapan-jepang-saat-hadapi-gempa-berkekuatan-75-magnitudo

Menurut sistem GPS, gempa tersebut mengakibatkan daratan Jepang berpindah sekitar 130 sentimeter ke arah bagian barat. Para ilmuwan juga telah memantau Jepang dari angkasa dengan cara membandingkan foto-foto satelit sebelum dan juga sesudah gempa bumi terjadi. Di pengorbitan terakhirnya, pesawat ruang angkasa yaitu ALOS-2 melaporkan bahwa jarak antara pesawat serta daratan sudah memendek saking kuatnya gempa hingga mendongkrak permukaan bumi.

Pergerakan tanah paling besar terjadi pada sisi barat Semenanjung Noto. Pada dasar laut di kawasan lepas pantai Semenanjung Noto juga di ketahui bergeser. Oleh karena itu, memicu gelombang tsunami berkisar sekitar 80 sentimeter. Sisi positifnya yaitu, pengangkatan tanah ini dapat mengurangi adanya dampak gelombang tinggi ketika menghantam garis pantai. Bagi anda yang ingin tahu informasi lebih lanjut tentang gempa di Jepang, maka simak artikel ini sampai selesai.

Alasan Korban Gempa Di Jepang Terbilang Minim

Kematian yang di alami oleh satu orang tetap di anggap tragis. Namun kecilnya jumlah orang yang tewas dalam bencana pada senin lalu merupakan sesuatu yang harus dikagumi – karena sampai saat ini upaya pencarian orang-orang yang terjebak pada bawah reruntuhan masih terus berlangsung.

Perhitungan sejauh ini memperkirakan bahwa jumlah kematian akibat gempa Jepang akan mencapai pada angka paling banyak yaitu 100 orang atau lebih. Gempa Jepang ini pat dibandingkan dengan gempa yang terjadi di Turki tahun lalu dengan berkekuatan 7,8 magnitudo.

Meskipun dahsyatnya kedua gempa bumi ini tergolong cukup mirip. Namun jumlah korban jiwa yang di Turki dan Suriah mencapai hingga lebih dari 50.000 orang. Pada tahun 2010, saat gempa berkekuatan 7 magnitudo menghantam Haiti, terdapat lebih dari 100.000 orang yang meninggal dalam peristiwa naas tersebut. Lalu mengapa jumlah korban jiwanya bisa sangat berbeda? Jawabannya sangat sederhana yaitu karena kesiapan.

Baca Juga : Gempa Jepang Picu Peringatan Tsunami Terbaru

Faktor Yang Membuat Jepang Siap Menghadapi Gempa

Gempa-Mengguncang-jepang

Secara geografis, Jepang berada pada pertemuan empat lempeng tektonik utama. Sebagai salah satu kawasan yang memiliki aktivitas seismik tertinggi di Bumi, Jepang “menyumbang” sebanyak 20% gempa global yang berkekuatan 6 magnitudo ataupun lebih. Jaringan seismometer juga mencatat kejadian serupa yang terjadi pada setiap rata-rata lima menit. Jepang juga berinvestasi besar untuk bisa membangun infrastruktur serta masyarakatnya yang tangguh untuk menghadapis semua gempa bumi. Jepang secara ketat menerapkan tentang aturan bangunan yaitu panduan untuk konstruksi bangunan.

Penduduknya juga sudah dilatih dengan baik tentang cara merespons guncangan tanah. Selain itu, sistem peringatan dini untuk gempa di Jepang juga adalah salah satu yang paling mutakhir di dunia saat ini. Meskipun para ilmuwan belum dapat memprediksi secara tepat waktu terjadinya kejadian serta skala gempa. Namun peringatan gempa bumi tersebut secara serta merta langsung dapat dilihat di jaringan TV, telepon genggam serta radio.

Notifikasi ini juga dapat sampai ke orang-orang yang keberadaannya jauh dari pusat gempa. Yang mana sekitar 10 sampai 20 detik sebelum getaran yang paling kuat terjadi. Sekilas waktunya tidak banyak, namun sebenarnya ini sangat cukup untuk membuka pintu pada stasiun pemadam kebakaran setempat. Selain itu juga mengerem kereta api yang berkecepatan tinggi serta memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa “merunduk, berpegangan serta berlindung.”

Untuk anda yang ingin mendapatkan berita terbaru dan berita lainnya, bisa klik link scroll-viewport.io.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *